Tahukah kau, sebetulnya aku
adalah tipe orang yang percaya tentang sebuah ‘Kebetulan’ di dunia ini.
Termasuk pertemuan kita. Maksudku , pertemuanku denganmu.
Sudah lama aku mengamatimu
diam-diam,dari kejahuan, di satu tempat yang tak dapat kau jangkau. Sudah lama
aku memperhatikan caramu bicara, caramu tertawa, caramu menatap dan
mengangguk-anggukan kepala ketika bicara dengan orang lain, caramu menulisakan
kata-kata dalam status facebook dan SMS. Semua cara yang kau gunakan
untuk menampilakan dirimu.
Sejak saat itu, aku merasa
dekat.
Tahukah kau, kala itu aku adalah
manusia bodoh yang membututimu dari belakang. Tapi, setelah waktu berbaik hati
mempertemukan kita, aku baru mengetahui hal lainya tentang dirimu. Kau yang
nyata dan berdimensi ternyata sebaik
yang kuduga , sikapmu semanis yang kukira,wajahmu setenang yang kubayangkan.
Aku tak tahu apa itu juga kebetulan.
Aku tak peduli. Yang aku
pedulikan sekarang adalah,betapa menyenagkannya hidup karena bisa dalam jarak
yang begitu dekat denganmu.
Tahukah kau, saat akhirnya kita
berteman,diam-diam aku selalu mengharapkan adanya pertemuan demi pertemuan. Aku
berharap akan ada hari yang sama , waktu yang sama , kesempatan yang sama, dan
orang yang sama. Yaitu aku dan kau.
Aku selalu berharap seperti itu.Tapi, aku tidak berani mengatakan padamu.
Aku tak berani membayangkan apa yang akan
jadi jawabanmu atas kalimatku nantinya. Kalau kau mengharapkan hal yang sama, aku
pasti akan gembira .Tapi kalau tidak?
Orang-orang bilang
aku ini sentimentil? Terlalu melankolis? Pecundang? Orang yang mengundang
kegalauan pada diri sendiri?
Ah, apa pun itu. Mungkin aku
memang si manusia bodoh yang menikmati ketakutan sendiri. Tapi, biarlah itu
semua terjadi. Cukuplah aku bahagia dengan apa yang kupunya saat ini. Saat bersamamu saja, meski
hanya menjadi teman.
Tahukah kau, kalau kemudian
hari-hariku berubah. Banyak diisi senyuman dan senyuman. Atau rindu dan rindu.
Atau bisikan dan bisikan untuk.... bilang yang sebenarnya? Begitu? Tapi,aku
belum siap. Aku pikir, aku tak betul-betul seperti apa yang orang bilang. Aku
pikir yang muncul dalam hatiku hanyalah sebuah perasaan biasa.
Apakah perempuan dan laki-laki
yang dekat dan berteman tidak boleh merasakan sesuatu yang berbeda dalam
hatinya? Seperti sesuatu yang hangat? Perasaan yang nyaman? Perasaan ingin
dilindungi. Atau dimiliki? Ups, aku tidak berani bilang begitu. Aku rasa kita
sudah saling memiliki.
Ya , masih sebagai
teman.
Tahukah kau, karena kau bilang
kita berteman selamanya, maka aku pun berharap kita akan bisa bersama
selamanya. Selalu seperti ini.
Aku
berharap kita memang tidak akan kehilanagan waktu untuk bersama. Aku berharap
kita akan tetap saling mengenal sampai akhir usia nanti.aku berharap,aku bisa
di sampingmu selamanya saat kau membutuhkan aku. Pun begitu sebaliknya.
Tapi... bagaimana
jika kita terpisah nanti? Jika kau pergi ke kota lain? Jika aku yang pergi?
Atau,kau meninggal lebih dulu? Atau, kemudian aku dilamar sesorang dan memilih untuk menikah dengan orang
tersebut?
Aku
belum berani membayangkanya.
Aku
memang manusia bodoh yang selalu merasa ragu. Karena aku menagagumimu sejak
dulu. Tapi aku tak mau mengaku.
Mungkin, aku talah
menyayangimu. Lebih dari perasaan sayang dari seorang teman.
Tahukah kau, beberapa hari
belakangan aku sering merenung. Mungkin betul aku telah berusaha memilikimu
diam-diam. Kalau begitu mungkin aku adalah manusia bodoh yang munafik? Ah,
kata-kata itu terdengar terlalu kejam untukku.
Tapi,sebetulnya
itu adalah sebuah kebenaran.
Tahukah kau, setalah aku
berpikir dan berpikir lagi. Akhirnya aku sadar, sikapku telah salah. Yang aku
pikirkan juga salah. Yang kubayangkan di masa depan juga salah. Jadi kupikir...
lebih baik kita tidak usah berkenalan dulu. Aku cukup jadi pengagummu saja
untuk saat ini. Dari jarak yang tak terjangkau. Dari sudut dimana kau tak akan
tahu bahwa ada aku di situ. Sebagai orang yang mengagumimu diam-diam.
Kebetulan-kebetulan
yang aku bayangkan, biarkanlah menjadi angan-angan selamanya. Dan aku pikir ,
mungkin memang tidak akan pernah ada
kebetulan seindah yang kubayangkan.
Jadi, biar aku
setia oleh perasaanku sendiri.
Setia
untuk sesuatu yang nyata memang begitu sulit, dan kadang mengundang sesuatu
yang menyakitkan.
Hidup
terlalu nyata. Dan aku mau bersamamu dalam mimpi saja. Karena dalam mimpi , aku
bisa menggapai apa yang aku mau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar